inspirasi islam 6 qurban

Panduan Pequrban

Ibadah qurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan (sunnah muakkadah), terutama bagi mereka yang memiliki kelapangan dan kelebihan harta sebagai penerapan dari ketauhidan, ketaatan dan peyempurnaan ibadah seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena qurban merupakan wujud kesholehan serta sebagai perwujudan kepedulian sosial kepada masyarakat lebih luas 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: “مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا”

Rasulullah Shallalhu Alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta) kemudian dia tidak melakukan penyembelihan (ibadah qurban) maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad & Ibnu Majah).

Oleh karena itu, selama Rasulullah saw tinggal di Madinah, beliau senantiasa melaksanakan ibadah ini dan memerintahkan umatnya untuk bisa melaksanakan ibadah tersebut. Supaya ibadah qurban terlaksana dengan baik dan sesuai sunnah, maka perlu diberikan panduan sebagai berikut:

  1. Niat

Jangan sampai kita berqurban dengan salah niat, atau meniatkan ibadah qurban bukan karena Allah Subhanahu wa ta’ala, karena pada dasarnya semua apa yang dikerjakan tergantung niat, dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

  1. Tidak Mencukur Rambut dan Memotong Kuku

Bagi orang yang berniat melaksanakan ibadah qurban disunnahkan tidak mencukur rambut dan memotong kukunya, dimulai tanggal 1 Dzulhijjah hingga pelaksanaan ibadah qurban. Namun bagi yang berniat qurbannya setelah tanggal 1 dzulhijah, maka ia dianjurkan untuk tidak melakukan hal tersebut dari awal berniat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw :

« إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا »

“Apabila telah masuk sepuluh hari (awal bulan Dzulhijjah) dan salah seorang dari kalian ingin berqurban, maka janganlah dia menyentuh (dengan menggunting atau mencabut) sesuatupun dari rambut dan kulitnya. (HR Muslim dari ummu Salamah)

« إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ ».

“Apabila kalian melihat hilal Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kalian bermaksud untuk berkurban, maka hendaklah ia menahan (tidak mencukur atau memotong) rambut dan kukunya. (HR Muslim dari Ummu Salamah)

  1. Berdoa

Jangan lupakan untuk senantiasa berdoa, karena doa adalah komunikasi langsung dengan Rabb kita,  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mu’min: 60)

Semoga Allah menerima Qurban kita dan memberikan kebaikan serta keberkahan untuk kita pribadi dan keluarga.

Jazakumullah khoiron.

Dewan Pengawas Syariah Rumah Yatim Dhuafa Rydha : Ust. Subti

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *