inspirasi islam 2 qurban

Mudahkan diri untuk berqurban

Hari Raya Idul Adha sering disebut dengan Idul Kurban. Ini karena pada hari tersebut dan tiga hari berikutnya, yakni hari tasyrik, sunah muakad bagi seorang muslim untuk menyembelih hewan kurban.

Kurban berasal dari bahasa Arab, “Qurban” yang berarti dekat (قربان). Kurban juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun, seringkali kurban dianggap berat oleh sebagian orang. Mereka beralasan hewan ternak yang harus dibeli membutuhkan biaya cukup tinggi. Padahal, keutamaan dan hikmah yang diperoleh dari berkurban jauh lebih besar dari harga yang harus dibayarkan.

Kisah Pemulung yang Berkurban

Ada sebuah kisah yang mengharukan sekaligus menggetarkan setiap orang. Yakni seorang pemulung yang berkurban dua ekor kambing di 2012 silam. Dialah Emak Yati, perempuan tua yang sehari-harinya mengais sampah (pemulung) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Emak Yati mengaku sangat ingin berkurban, sampai-sampai tukang kambing dicegat untuk membeli hewan kurban ketika uangnya sudah ada. Dengan niat yang kuat, ia menabung selama tiga tahun. Menyisihkan uang hasil dari memulung, seribu atau seribu lima ratus setiap hari.  Jelas saja hal tersebut membuat panitia penyembelihan kurban merasa terharu. Mereka semua tidak menyangka sama sekali.

Ada dua pelajaran penting yang dapat dipetik dari kisah ini:

  1. Niat yang kuat

Rasulullah bersabda, segala sesuatu tergantung niatnya. Karena dengan niat yang kuatlah, sesuatu dapat terlaksana. “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam ahli hadis)

Niat memberi kita kekuatan untuk tetap tegar menghadapi cobaan dan tantangan. Hal ini dibuktikan Dr Kazuo Murakami, penulis buku The Divine Message of the DNA, Tuhan dalam Gen Kita (Mizan, 20070). Ahli genetika terkemuka dunia yang memenangi Max Planck Research Award dan Japan Academy Prize ini, menyatakan pikiran memengaruhi cara kerja gen kita. Ia berusaha menyingkap rahasia kekuatan niat yang diajarkan Rasulullah saw.

Oleh karena itu, ketika niat sudah mantap berkurban, maka dengan sendirinya kita melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang telah diniatkan. Apalagi semua terasa mudah ketika niat menghujam dalam dada. Ini merupakan cara memudahkan diri untuk berkurban.

  1. Persiapan yang matang

Segala sesuatu perlu perencanaan matang. Dalam ilmu manajemen Barat, dikenal dengan istilah planning. Begitu pun berkurban yang dirasa berat oleh sebagian orang. Padahal, dengan perencanaan yang disiapkan jauh-jauh hari, hal tersebut mudah dilakukan.

Menurut Arthur W. Steller, pengertian perencanaan ialah hubungan antara apa yang ada sekarang dengan bagaimana seharusnya, yang mana bertalian dengan kebutuhan, prioritas, penentuan tujuan, program, dan alokasi sumber. Bagaimana seharusnya yaitu mengacu pada masa datang. Perencanaan dalam hal ini menekankan pada usaha yang disesuaikan dengan apa yang dicita-citakan, menghilangkan jarak antara keadaan sekarang dengan keadaan mendatang yang diinginkan.

Sementara itu, Islam dengan jelas membahas tentang perencaanan. Allah berfirman, “Hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok hari (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Ayat ini secara tersurat berisi perintah melakukan perencanaan dalam melakukan suatu hal. Islam sebagai agama yang sempurna menekankan setelah perencanaan dilakukan, hendaknya evaluasi dilakukan.

Ada pun ibadah kurban, umat muslim hendaklah memudahkan diri dengan merencanakannya. Seperti cerita sarat hikmah tentang Emak Yati, meskipun pemulung namun dapat berkurban dengan menabung selama tiga tahun.

Hikmah Berkurban

Sebagaimana ibadah lainnya, kurban memilik banyak hikmah. Hikmah inilah yang membuat muslim harus lebih memancangkan niat dan memantapkan perencanaan melakukan ibadah tersebut. Hikmah kurban di antaranya:

  1. Bukti nyata syukur. “Supaya mereka menyebut nama Allah atas apa yang Allah karuniakan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. al-Hajj [22]: 34)
  1. Bukti sebagai hamba bertakwa. “Daging kurban dan darahnya itu sekalikali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya. (QS. al-Hajj [22]: 37)
  1. Terakui sebagai umat Rasulullah saw. “Barang siapa yang mempunyai keluasan (harta) dan tidak mau berkurban, maka janganlah mendekati tempat salat kami!” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim, ad-Daruquthni, dan al-Baihaqi)
  1. Meraih ampunan dosa. Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa dosa yang kamu lakukan.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmizi)
  1. Berpahala besar. “Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
  1. Mendapat kesaksian yang indah dari hewan kurban kita kelak. “Sesungguhnya ia (hewan kurban) akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku dan bulunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban akan jatuh pada sebuah tempat di dekat Allah sebelum darah mengalir menyentuh tanah. Maka berbahagialah jiwa dengannya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Semoga kita termasuk orang-orang yang kuat niat dan matang perencanaannya, sehingga ibadah kurban mudah dilakukan. Aamiin.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on print
Print
Share on whatsapp
WhatsApp
Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *