b

Hukum Qurban Secara Kolektif

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.

Hewan yang digunakan untuk sembelihan qurban adalah unta, sapi [1], dan kambing. Bahkan para ulama berijma’ (bersepakat) tidak sah apabila seseorang melakukan sembelihan dengan selain binatang ternak tadi.[2]

Ketentuan Qurban Kambing

Seekor kambing hanya untuk qurban satu orang dan boleh pahalanya diniatkan untuk seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia.

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” [3]

Asy Syaukani mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih.” [4]

Ketentuan Qurban Sapi  dan Unta

Seekor sapi boleh dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor unta untuk 10 orang (atau 7 orang) [5]. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَحَضَرَ الأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِى الْبَقَرَةِ سَبْعَةً وَفِى الْبَعِيرِ عَشَرَةً

”Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Idul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor unta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.”[6]

Begitu pula dari orang yang ikut urunan qurban sapi atau unta, masing-masing boleh meniatkan untuk dirinya dan keluarganya. Perhatikan fatwa Al Lajnah Ad Da-imah berikut.

Soal pertama dari Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ’Ilmiyah wal Ifta’ no. 8790

Soal: Bolehkah seorang muslim berqurban unta atau sapi untuk tujuh orang, lalu masing-masing meniatkan untuk orang tua, anak, kerabat, pengajar dan kaum muslimin lainnya.  Apakah urunan tujuh orang tadi masing-masing diniatkan untuk satu orang saja (tanpa disertai lainnya) atau pahalanya boleh untuk yang lainnya?

Jawab: Yang diajarkan, unta dan sapi dibolehkan untuk tujuh orang. Setiap tujuh orang itu boleh meniatkan untuk dirinya sendiri dan anggota keluarganya.

Yang menandatangai fatwa ini:

Anggota: ’Abdullah bin Qu’ud, ’Abdullah bin Ghodyan

Wakil ketua: ’Abdur Rozaq ’Afifi

Ketua: ’Abdul ’Aziz bin ’Abdillah bin Baz [7]

Bagaimana Hukum Qurban Secara Kolektif?

Ketentuan Qurban Sapi dan Unta
Seekor sapi boleh dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor unta untuk 10 orang (atau 7 orang). Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan

,كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَحَضَرَ الأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِى الْبَقَرَةِ سَبْعَةً وَفِى الْبَعِيرِ عَشَرَةً

”Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Idul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor unta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.”[8]

Dewan Syariah Rumah Yatim Dhuafa Rydha : Ust. Subti.

[1] Sebagian ulama menyamakan kerbau dengan sapi.

[2] Lihat Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 2/369, Maktabah At Taufiqiyah.

[3] HR. Tirmidzi no. 1505, Ibnu Majah no. 3138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Al Irwa’ no. 1142.

[4] Nailul Author, Asy Syaukani, 8/125, Mawqi’ Al Islam.

[5] Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa satu unta hanya dijadikan urunan tujuh orang untuk udh-hiyah karena diqiyaskan dengan unta pada al hadyu. Sedangkan Asy Syaukani mengatakan bahwa unta udh-hiyah boleh untuk sepuluh orang dan unta al hadyu untuk tujuh orang. (Shahih Fiqih Sunnah, 2/370)

[6] HR. Tirmidzi no. 905, Ibnu Majah no. 3131. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih, sebagaimana dalam Misykatul Mashobih 1469 [17].

[7] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, 11/405, Darul Ifta

[8] HR. Tirmidzi no. 905, Ibnu Majah no. 3131. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih, sebagaimana dalam Misykatul Mashobih 1469

 

 

 

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print
a

Qurban Via Online, bagaimana hukumnya ?

Transaksi muamalah di masyarakat bersifat dinamis, berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Zaman dahulu, orang bertransaksi barang dengan barang atau barter. Kemudian ketika ada emas dan perak maka emas dan perak dijadikan alat tukar. Selanjutnya alat tukar pun berubah tidak lagi harus berupa emas dan perak tapi oleh apa pun yang disepakati oleh masyarakat. Bahkan zaman sekarang, uang sudah tidak berwujud lagi, tapi hanya berupa deretan angka atau e-money atau uang digital.

Syariah mensyaratkan bahwa salah satu rukun akad adalah adanya ijab dan kabul sebagai representasi keridhaan kedua belah pihak yang bertransaksi. Zaman dahulu, ijab dan kabul itu dilafazkan dengan sharih atau jelas. “saya serahkan barang dengan harga sekian” sebagai bentuk Ijab dari pihak penjual dan “saya terima barangnya dengan harga sekian” sebagai pernyataan kabul dari pihak pembeli. Namun demikian, dengan perkembangan zaman maka pola ijab kabul pun berubah. Para pedagang biasa melakukan apa yang disebut “al-Muaathah”. Dimana penjual menyerahkan barang dan pembeli menyerahkan uang tanpa ada lafadz yang disampaikan, karena kedua-duanya telah mengetahui dan menyepakati nilai yang ditarnsasikan. Dan hal tersebut dianggap sah sebagai ijab kabul.

Dalam transaksi kurban disunahkan ada ijab dan kabul. Dalam hal ini, lembaga zakat adalah wakil darimudhahhi yang akan berkurban. Akad wakalah yang dilakukan sebenarnya langsung terjadi ketika pihakmudhahhi mentransfer sejumlah dana sesuai dengan pilihan hewan kurban yang akan ia titipkan penyembelihannya kepada pihak lembaga. Serta akunnya pun akun khusus untuk akad tersebut. Sehingga dengan demikian, hal tersebut telah menunjukan adannya ijab dan kabul terlebih dalam akad kurban biasanya pihak lembaga akan meminta data mudahhi untuk memudahkan proses pelaporan.

Menyaksikan Proses Penyembelihan Hewan Qurban

Salah satu sunah dalam proses penyembelihan hewan kurban adalah mudhahhi menyaksikan langsung  proses penyembelihan hewan kurban jika ia tidak bisa menyembelihnya sendiri. Hal tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi

وروى البيهقي بإسناده عن علي بن أبي طالب – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال لفاطمة رضي الله عنها: (يا فاطمة قومي فاشهدي أضحيتك أما إن لك بأول قطرة تقطر من دمها مغفرة لكل ذنب، أما إنه يجاء بها يوم القيامة بلحومها ودمائها سبعين ضعفاً حتى توضع في ميزانك. فقال أبو سعيد الخدري – رضي الله عنه -: يا رسول الله أهذه لآل محمد خاصة فهم أهل لما خصوا به من خير، أو لآل محمد والناس عامة. فقال رسول الله: بل هي لآل محمد وللناس عامة) رواه البيهقي، وقال عمرو بن خالد ضعيف

Dari Ali bin Abi Thalib Ra sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda kepada fatimah Ra : “Hai fatimah, berdirilah dan saksikanlah penyembelihan hewan kurbanmu, karena bagimu dengan setiap tetesan darah yang mengalir dari darahnya ada pengampunan untuk setiap dosa. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan datang dengan daging dan darahnya sejumlah tujuh puluh kali lipatnya dan disimpan dalam timbangan amal shalehmu” Abu Said al-Khudry Ra berkata : Wahai Rasulullah apakah hal itu khusus untuk keluarga Muhammad karena mereka memiliki kekhususan dalam kebaikan atau bagi keluarga Muhammad dan semua umat  manusia. Maka Rasulullah menjawab : “Hal tersebut berlaku untuk keluarga Muhammad dan semua umat Islam. (Hadis ini dan yang semakna dengannya adalah dhaif tapi bisa diamalkan menurut para ulama)

Pun demikian, hadis ini bukan berarti mereka yang tidak menyaksikan langsung tidak melaksanakan sunah. Hadis ini berlaku jika penyembelihannya dilakukan dekat dengan rumah kita. Tapi jika dilakukan berjauhan maka kita bisa mewakilkan kepada orang lain untuk menyaksikannya. Apalagi jika kurbannya dilaksanakan di daerah yang minus tentu kemanfaatannya akan jauh lebih besar dibandingkan jika kita menyembelihnya di lingkungan kita yang memang sudah terbiasa melakukan kurban. Semuanya pilihan dan insyaa Allah semuanya juga baik. 

Penulis : Ust. Subti, Dewan Syariah Rumah Yatim Dhuafa Rydha

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print
inspirasi islam 3 qurban

Aqiqah dahulu atau Qurban dahulu ?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu pertanyaan yang sering masuk ke redaksi konsultasi syariah adalah bolehkah berqurban sebelum aqiqah?  Redaksi pertanyaan ini ambigu. Ada 2 kemungkinan makna,

[1] Bolehkah berqurban, sementara dia belum mengaqiqahi anaknya yang baru saja lahir?

[2] Bolehkah  berqurban, sementara dulu waktu kecil belum diaqiqahi orang tua?

Yang kesimpulannya bahwa itu diperbolehkan. Kembali melihat mana yang waktunya datang lebih awal. Jika waktu qurban lebih awal, maka dia bisa qurban terlebih dahulu. Dan sebaliknya.

Selanjutnya, bagaimana dengan status orang yang berqurban, sementara dulu waktu kecil belum diaqiqahi orang tuanya?

Diantara yang sempat membuat resah masyarakat, munculya pemahaman yang tersebar di tengah mereka bahwa berqurban sebelum aqiqah, status qurbannya tidak sah. Allahu a’lam, sungguh kami tidak pernah tahu, dari mana pemahaman ini berasal.

Berikut beberapa catatan untuk menjawab hukum berqurban, bagi mereka yang belum diaqiqahi orang tuanya?

Pertama, bahwa berqurban dan aqiqah adalah dua kewajiban yang berbeda. Dan keduanya tidak memiliki hubungan sebab akibat. Dalam arti, aqiqah bukan syarat sah qurban, dan demikian pula sebaliknya.

Tidak sebagaimana shalat dan wudhu. Keduanya ibadah yang terpisah, namun wudhu menjadi syarat sah shalat. Dalilnya, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Tidak ada shalat kecuali dengan thoharoh. (HR. Muslim 224)

Untuk menyebut amal A merupakan syarat amal B, semua butuh dalil. Sementara kami tidak mengetahui adanya dalil bahwa aqiqah adalah syarat sah qurban.

Kedua, bahwa aqiqah dan berqurban, yang bertanggung jawab berbeda. Aqiqah merupakan tanggung jawab ayah (orang tua) untuk anaknya. sementara qurban, tanggung jawab mereka yang hendak berqurban.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Karena itu, ketika si A belum diaqiqahi ayahnya, kemudian di tahun ini si A hendak berqurban, maka dia tidak bertanggung jawab untuk aqiqah terlebih dahulu, sebelum berqurban. Karena aqiqah, tanggung jawab ayahnya, dan bukan tanggung jawab si A. Sementara yang menjadi tanggung jawab si A adalah ibadah qurban yang akan dia laksanakan.

Al-Khallal meriwayatkan dari Ismail bin Said as-Syalinji, beliau mengatakan,

سألت أحمد عن الرجل يخبره والده أنه لم يعق عنه ، هل يعق عن نفسه ؟ قال : ذلك على الأب

Saya bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang diberi-tahu orang tuanya, bahwa dirinya belum diaqiqahi. Bolehkah orang ini mengaqiqahi dirinya sendiri? Kata Ahmad, “Itu tanggung jawab ayahnya.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 58).

Ketiga, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, kemudian ketika dewasa dia hendak berqurban, maka sembelihan qurban yang dia lakukan, sudah mewakili aqiqah untuk dirinya.

Al-Khallal menyebutkan riwayat keterangan dari Imam Ahmad,

ذكر أبو عبد الله أن بعضهم قال فإن ضحى أجزأ عن العقيقة

Imam Ahmad menyebutkan bahwa sebagian ulama mengatakan, “Jika ada orang yang berqurban, maka sudah bisa mewakili aqiqah.”

وأخبرنا عصمة بن عصام حدثنا حنبل أن أبا عبد الله قال : أرجو أن تجزىء الأضحية عن العقيقة إن شاء الله تعالى لمن لم يعق

Kami mendapatkan berita dari Ishmah binn Isham, dari Hambal (keponakan Imam Ahmad), bahwa Imam Ahmad pernah mengatakan, “Saya berharap, semoga qurban bisa mewakili aqiqah, insyaaAllah, bagi orang yang belum diaqiqahi.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 58)

Dari penjelasan di atas, tidak jadi masalah ketika orang yang belum diaqiqahi sewaktu kecil, boleh melakukan qurban. Karena aqiqah bukan syarat sah qurban.

Demikian.. Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com

Sumber : www.konsultasisyariah.com

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print
inspirasi islam 10 qurban

Boleh Gak Yah Arisan Qurban Itu ?

Bolehkah berhutang untuk Qurban? Seperti yang dilakukan oleh orang saat ini dengan arisan kurban. Karena arisan sama saja dengan berutang.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS. Al Hajj: 36).

Ibnu Katsir mengatakan mengenai maksud “kebaikan” dalam ayat tersebut, yaitu balasan pahala di negeri akhirat. Sedangkan, Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud kebaikan di situ adalah pahala dan kemanfaatan. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5: 415 dan 416.

Jadi ayat tersebut menerangkan bahwa kurban itu akan memperoleh kebaikan yang banyak. Sehingga sebisa mungkin seorang muslim meraih kebaikan ini meski dengan cara berutang.

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan, ”Dulu Abu Hatim pernah mencari utangan dan beliau pun menggiring unta untuk disembelih. Lalu dikatakan padanya, ”Apakah betul engkau mencari utangan dan telah menggiring unta untuk disembelih?” Abu Hatim menjawab, ”Aku telah mendengar firman Allah,

لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al Hajj: 36)” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5: 415).

Untuk masalah akikah, Imam Ahmad berkata,

إذا لم يكن مالكاً ما يعقّ فاستقرض أرجو أن يخلف اللّه عليه ؛ لأنّه أحيا سنّة رسول اللّه صلى الله عليه وسلم

“Jika seseorang tidak mampu aqiqah, maka hendaknya ia mencari utangan dan berharap Allah akan menolong melunasinya. Karena seperti ini akan menghidupkan ajaran Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.” (Matholib Ulin Nuha, 2: 489, dinukil dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 30: 278). Untuk kurban pun berlaku demikian, bisa dengan berutang.

Dalam Fatwa Islam Web no. 7198 disebutkan,

فمن كان غير واجد للمال الذي يكفي لشراء الأضحية فاشترى أضحيته بالدين المقسط، ‏أو المؤجل، لأجل معلوم، وضحى بها أجزأه ذلك، ولا حرج عليه ، بل إن من أهل العلم ‏من استحب لغير الواجد أن يقترض لشراء أضحيته، إذا علم من نفسه القدرة على الوفاء.‏
وليس من هذا الباب من كانت عنده سعة من المال، إلا أنه لا يجد الآن السيولة الكافية ‏لشراء الأضحية. فهذا مخاطب بالأضحية، لأنه واجد في الحقيقة، فعليه أن يقترض حتى ‏يضحي.‏ والله تعالى أعلم.‏

“Siapa yang tidak mendapati kecukupan harta untuk membeli hewan kurban, maka hendaklah ia membeli kurban dengan cara berutang (menyicil) atau dibayar pada waktu akan datang yang telah disepakati (dijanjikan). Jika seseorang berkurban dalam keadaan berutang seperti ini, kurbannya sah, tidak ada masalah baginya. Bahkan sebagian ulama ada yang menganjurkan bagi orang yang tidak mendapati harta saat berkurban supaya ia mencari pinjaman untuk membeli hewan kurban dengan catatan ia mampu untuk melunasi utangnya.

Hal ini tidaklah masuk dalam masalah orang yang tidak punya kelapangan rezeki. Namun saat ingin berkurban, ia tidak punya kecukupan harta untuk membeli hewan kurban padahal ia sudah terkena perintah berkurban. Karena kenyataannya ia termasuk oramg yang mampu. Maka saat itu hendaklah ia berutang untuk tetap bisa berkurban. Wallahu Ta’ala a’lam.

Catatan untuk yang melaksanakan arisan kurban,

1- Yang mengikuti arisan tersebut hendaknya orang yang berkemampuan karena yang namanya arisan berarti berutang.

2- Harga kambing bisa berubah setiap tahunnya. Oleh karena itu, arisan pada tahun pertama lebih baik setorannya dilebihkan dari perkiraan harga kambing untuk tahun tersebut.

3- Ketika menyembelih tetap mengatasnamakan individu (satu orang untuk kambing atau tujuh orang untuk sapi dan unta) dan bukan mengatasnamakan jama’ah atau kelompok arisan.

Selengkapnya mengenai hal di atas, baca artikel Hukum Qurban Secara Kolektif.

Semoga sajian yang singkat ini bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Referensi:

Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, terbitan Wizaroh Al Awqof wasy Syu’un Al Islamiyah, Kuwait.

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.

Sumber : Rumahsyo.com

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print
inspirasi islam 4 qurban

Tentang Pembagian Daging Qurban

Daging kurban disyaratkan untuk dibagikan mentah, agar oleh si penerima yang berhak, dapat digunakan sesuka hatinya atau menjualnya. Maka tidak cukup dengan mengundang fakir miskin dan disuguhkan kepada mereka masakan dengan daging kurban tersebut.
Mengenai pembagian daging kurban, asalkan bukan kurban nadzar, maka orang yang berkurban berhak mengambil sebagian daging kurban dan selebihnya dibagikan (disedekahkan) kepada fakir miskin. Sebagian ulama berpendapat, daging kurban didistribusikan menjadi 3 bagian, sepertiga dimakan oleh yang berkurban, sepertiga lagi untuk disimpan oleh yang berkurban dan sepertiga yang lain disedekahkan kepada fakir miskin atau orang lain.

Sementara imam Syafi’I dalam qoul jadidnya berpendapat, sepertiga untuk dimakan sendiri dan dua pertiganya untuk disedekahkan. Adapun salafush shalih mereka menyukai membagi tiga bagian, sepertiga untuk dimakan sendiri, sepertiga disedekahkan kepada fakir miskin dan sepertiga lagi dihadiahkan kepada orang yang kaya.

Sementara menurut pendapat Imam Ibnu Qasim Al Ghizi, yang paling utama adalah menyedekahkan seluruh daging kurban tersebut, kecuali sekedar beberapa suapan saja bagi yang berkurban untuk mendapat keberkahan (At Tabarruk) dengan kurban itu.

Adanya hak orang yang berkurban mengambil daging kurbannya itu tidaklah mengurangi nilai ibadah kurbannya. Oleh karena nilai kurbannya telah terwujud pada proses penyembelihan, penumpahan darah hewan kurban. 

Perbuatan yang dilarang dalam hal ini adalah menjual daging kurban sekalipun kulitnya atau memberikan upah berupa sebagian daging kurban kepada orang yang diserahi menyembelih. 
Tapi jika kurban itu dinadzarkan, seperti dia mengatakan: ” wajib kepadaku agar aku berkurban untuk Allah”, atau “Aku bernadzar akan berkurban”, atau, ” binatang ini aku jadikan sebagai kurban”, maka dengan kalimat-kalimat itu dia telah dianggap bernadzar atau dengan kata lain menjadi wajib baginya berkurban, dan dalam hal ini, dia tidak boleh nantinya setelah disembelih untuk mengambil bagian dari daging kurbannya sekalipun sedikit, demikian pula tidak boleh mengambilnya orang-orang yang berada dalam tanggungan nafakahnya, seperti anak dan isterinya. 

Sumber: http://www.madinatulilmi.org

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print
inspirasi islam 5 qurban

Tata Cara menyembelih hewan Qurban

Tata cara menyembelih hewan ada 2:

Nahr [arab: نحر], menyembelih hewan dengan melukai bagian tempat kalung (pangkal leher). Ini adalah cara menyembelih hewan unta.

Allah berfirman,

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ الله لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ الله عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا

Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah… (QS. Al Haj: 36)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan ayat di atas, (Untanya) berdiri dengan tiga kaki, sedangkan satu kaki kiri depan diikat. (Tafsir Ibn Katsir untuk ayat ini)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyembelih unta dengan posisi kaki kiri depan diikat dan berdiri dengan tiga kaki sisanya. (HR. Abu daud dan disahihkan Al-Albani).

Dzabh [arab: ذبح], menyembelih hewan dengan melukai bagian leher paling atas (ujung leher). Ini cara menyembelih umumnya binatang, seperti kambing, ayam, dst.

Pada bagian ini kita akan membahas tata cara Dzabh, karena Dzabh inilah menyembelih yang dipraktikkan di tempat kita -bukan nahr-.

Beberapa adab yang perlu diperhatikan:

  1. Hendaknya yang menyembelih adalah shohibul kurban sendiri, jika dia mampu. Jika tidak maka bisa diwakilkan orang lain, dan shohibulkurban disyariatkan untuk ikut menyaksikan.
  2. Gunakan pisau yang setajam mungkin. Semakin tajam, semakin baik. Ini berdasarkan hadis dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْح وَ ليُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim).

  1. Tidak mengasah pisau dihadapan hewan yang akan disembelih. Karena ini akan menyebabkan dia ketakutan sebelum disembelih. Berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِّ الشِّفَارِ ، وَأَنْ تُوَارَى عَنِ الْبَهَائِمِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).

  1. Menghadapkan hewan ke arah kiblat.
    Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyah:
    Hewan yang hendak disembelih dihadapkan ke kiblat pada posisi tempat organ yang akan disembelih (lehernya) bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:196).
    Dengan demikian, cara yang tepat untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat ketika menyembelih adalah dengan memosisikan kepala di Selatan, kaki di Barat, dan leher menghadap ke Barat.
  2. Membaringkan hewan di atas lambung sebelah kiri.
    Imam An-Nawawi mengatakan,
    Terdapat beberapa hadis tentang membaringkan hewan (tidak disembelih dengan berdiri, pen.) dan kaum muslimin juga sepakat dengan hal ini. Para ulama sepakat, bahwa cara membaringkan hewan yang benar adalah ke arah kiri. Karena ini akan memudahkan penyembelih untuk memotong hewan dengan tangan kanan dan memegangi leher dengan tangan kiri. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:197).

Penjelasan yang sama juga disampaikan Syekh Ibnu Utsaimin. Beliau mengatakan, “Hewan yang hendak disembelih dibaringkan ke sebelah kiri, sehingga memudahkan bagi orang yang menyembelih. Karena penyembelih akan memotong hewan dengan tangan kanan, sehingga hewannya dibaringkan di lambung sebelah kiri. (Syarhul Mumthi’, 7:442).

  1. Menginjakkan kaki di leher hewan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

ضحى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم بكبشين أملحين، فرأيته واضعاً قدمه على صفاحهما يسمي ويكبر

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba. Aku lihat beliau meletakkan meletakkan kaki beliau di leher hewan tersebut, kemudian membaca basmalah …. (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Bacaan ketika hendak menyembelih.
    Beberapa saat sebelum menyembelih, harus membaca basmalah. Ini hukumnya wajib, menurut pendapat yang kuat. Allah berfirman,

وَ لاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ الله عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ..

Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (QS. Al-An’am: 121).

  1. Dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah
    Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallampernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,…beliau sembelih dengan tangannya, dan baca basmalah serta bertakbir…. (HR. Al Bukhari dan Muslim).
  2. Pada saat menyembelih dianjurkan menyebut nama orang yang jadi tujuan dikurbankannya herwan tersebut.
    Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan, ‘bismillah wallaahu akbar, ini kurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berkurban dari umatku.’” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi dan disahihkan Al-Albani).
    Setelah membaca bismillah Allahu akbar, dibolehkan juga apabila disertai dengan bacaan berikut:
    hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud, no. 2795) Atau
    hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan (disebutkan nama shohibul kurban). Jika yang menyembelih bukan shohibul kurban atau
    Berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shohibul kurban).” [1]

Catatan: Bacaan takbir dan menyebut nama sohibul kurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Sehingga kurban tetap sah meskipun ketika menyembelih tidak membaca takbir dan menyebut nama sohibul kurban.

  1. Disembelih dengan cepat untuk meringankan apa yang dialami hewan kurban.
    Sebagaimana hadis dari Syaddad bin Aus di atas.
  2. Pastikan bahwa bagian tenggorokan, kerongkongan, dua urat leher (kanan-kiri) telah pasti terpotong.
    Syekh Abdul Aziz bin Baz menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai syariat itu ada tiga keadaan (dinukil dariSalatul Idain karya Syekh Sa’id Al-Qohthoni):
  3. Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini adalah keadaan yang terbaik. Jika terputus empat hal ini maka sembelihannya halal menurut semua ulama.
  4. Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu urat leher. Sembelihannya benar, halal, dan boleh dimakan, meskipun keadaan ini derajatnya di bawah kondisi yang pertama.
  5. Terputusnya tenggorokan dan kerongkongan saja, tanpa dua urat leher. Status sembelihannya sah dan halal, menurut sebagian ulama, dan merupakan pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. Dalilnya adalah sabda Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,

ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكل، ليس السن والظفر

“Selama mengalirkan darah dan telah disebut nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

  1. Sebagian ulama menganjurkan agar membiarkan kaki kanan bergerak, sehingga hewan lebih cepat meregang nyawa.
    Imam An-Nawawi mengatakan, “Dianjurkan untuk membaringkan sapi dan kambing ke arah kiri. Demikian keterangan dari Al-Baghawi dan ulama Madzhab Syafi’i. Mereka mengatakan, “Kaki kanannya dibiarkan…(Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8:408)
  2. Tidak boleh mematahkan leher sebelum hewan benar-benar mati.
    Para ulama menegaskan, perbuatan semacam ini hukumnya dibenci. Karena akan semakin menambah rasa sakit hewan kurban. Demikian pula menguliti binatang, memasukkannya ke dalam air panas dan semacamnya. Semua ini tidak boleh dilakukan kecuali setelah dipastikan hewan itu benar-benar telah mati.

Dinyatakan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, “Para ulama menegaskan makruhnya memutus kepala ketika menyembalih dengan sengaja. Khalil bin Ishaq dalam Mukhtashar-nya untuk Fiqih Maliki, ketika menyebutkan hal-hal yang dimakruhkan pada saat menyembelih, beliau mengatakan,

وتعمد إبانة رأس

“Diantara yang makruh adalah secara sengaja memutus kepala” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 93893).
Pendapat yang kuat bahwa hewan yang putus kepalanya ketika disembelih hukumnya halal.
Imam Al-Mawardi –salah satu ulama Madzhab Syafi’i– mengatakan, “Diriwayatkan dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau ditanya tentang menyembelih burung sampai putus lehernya? Sahabat Imran menjawab, ‘boleh dimakan.”
Imam Syafi’i mengatakan,

فإذا ذبحها فقطع رأسها فهي ذكية

“Jika ada orang menyembelih, kemudian memutus kepalanya maka statusnya sembelihannya yang sah” (Al-Hawi Al-Kabir, 15:224).

Allahu a’lam.

Sumber : www.konsultasisyariah.com

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print
inspirasi islam 2 qurban

Mudahkan diri untuk berqurban

Hari Raya Idul Adha sering disebut dengan Idul Kurban. Ini karena pada hari tersebut dan tiga hari berikutnya, yakni hari tasyrik, sunah muakad bagi seorang muslim untuk menyembelih hewan kurban.

Kurban berasal dari bahasa Arab, “Qurban” yang berarti dekat (قربان). Kurban juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun, seringkali kurban dianggap berat oleh sebagian orang. Mereka beralasan hewan ternak yang harus dibeli membutuhkan biaya cukup tinggi. Padahal, keutamaan dan hikmah yang diperoleh dari berkurban jauh lebih besar dari harga yang harus dibayarkan.

Kisah Pemulung yang Berkurban

Ada sebuah kisah yang mengharukan sekaligus menggetarkan setiap orang. Yakni seorang pemulung yang berkurban dua ekor kambing di 2012 silam. Dialah Emak Yati, perempuan tua yang sehari-harinya mengais sampah (pemulung) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Emak Yati mengaku sangat ingin berkurban, sampai-sampai tukang kambing dicegat untuk membeli hewan kurban ketika uangnya sudah ada. Dengan niat yang kuat, ia menabung selama tiga tahun. Menyisihkan uang hasil dari memulung, seribu atau seribu lima ratus setiap hari.  Jelas saja hal tersebut membuat panitia penyembelihan kurban merasa terharu. Mereka semua tidak menyangka sama sekali.

Ada dua pelajaran penting yang dapat dipetik dari kisah ini:

  1. Niat yang kuat

Rasulullah bersabda, segala sesuatu tergantung niatnya. Karena dengan niat yang kuatlah, sesuatu dapat terlaksana. “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam ahli hadis)

Niat memberi kita kekuatan untuk tetap tegar menghadapi cobaan dan tantangan. Hal ini dibuktikan Dr Kazuo Murakami, penulis buku The Divine Message of the DNA, Tuhan dalam Gen Kita (Mizan, 20070). Ahli genetika terkemuka dunia yang memenangi Max Planck Research Award dan Japan Academy Prize ini, menyatakan pikiran memengaruhi cara kerja gen kita. Ia berusaha menyingkap rahasia kekuatan niat yang diajarkan Rasulullah saw.

Oleh karena itu, ketika niat sudah mantap berkurban, maka dengan sendirinya kita melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang telah diniatkan. Apalagi semua terasa mudah ketika niat menghujam dalam dada. Ini merupakan cara memudahkan diri untuk berkurban.

  1. Persiapan yang matang

Segala sesuatu perlu perencanaan matang. Dalam ilmu manajemen Barat, dikenal dengan istilah planning. Begitu pun berkurban yang dirasa berat oleh sebagian orang. Padahal, dengan perencanaan yang disiapkan jauh-jauh hari, hal tersebut mudah dilakukan.

Menurut Arthur W. Steller, pengertian perencanaan ialah hubungan antara apa yang ada sekarang dengan bagaimana seharusnya, yang mana bertalian dengan kebutuhan, prioritas, penentuan tujuan, program, dan alokasi sumber. Bagaimana seharusnya yaitu mengacu pada masa datang. Perencanaan dalam hal ini menekankan pada usaha yang disesuaikan dengan apa yang dicita-citakan, menghilangkan jarak antara keadaan sekarang dengan keadaan mendatang yang diinginkan.

Sementara itu, Islam dengan jelas membahas tentang perencaanan. Allah berfirman, “Hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok hari (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Ayat ini secara tersurat berisi perintah melakukan perencanaan dalam melakukan suatu hal. Islam sebagai agama yang sempurna menekankan setelah perencanaan dilakukan, hendaknya evaluasi dilakukan.

Ada pun ibadah kurban, umat muslim hendaklah memudahkan diri dengan merencanakannya. Seperti cerita sarat hikmah tentang Emak Yati, meskipun pemulung namun dapat berkurban dengan menabung selama tiga tahun.

Hikmah Berkurban

Sebagaimana ibadah lainnya, kurban memilik banyak hikmah. Hikmah inilah yang membuat muslim harus lebih memancangkan niat dan memantapkan perencanaan melakukan ibadah tersebut. Hikmah kurban di antaranya:

  1. Bukti nyata syukur. “Supaya mereka menyebut nama Allah atas apa yang Allah karuniakan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. al-Hajj [22]: 34)
  1. Bukti sebagai hamba bertakwa. “Daging kurban dan darahnya itu sekalikali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya. (QS. al-Hajj [22]: 37)
  1. Terakui sebagai umat Rasulullah saw. “Barang siapa yang mempunyai keluasan (harta) dan tidak mau berkurban, maka janganlah mendekati tempat salat kami!” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim, ad-Daruquthni, dan al-Baihaqi)
  1. Meraih ampunan dosa. Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa dosa yang kamu lakukan.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmizi)
  1. Berpahala besar. “Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
  1. Mendapat kesaksian yang indah dari hewan kurban kita kelak. “Sesungguhnya ia (hewan kurban) akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku dan bulunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban akan jatuh pada sebuah tempat di dekat Allah sebelum darah mengalir menyentuh tanah. Maka berbahagialah jiwa dengannya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Semoga kita termasuk orang-orang yang kuat niat dan matang perencanaannya, sehingga ibadah kurban mudah dilakukan. Aamiin.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on print
Print
Share on whatsapp
WhatsApp
Inspirasi 9

6 Kegiatan Prioritas Diakhir Ramadhan

ADA ungkapan, “Api kecil bisa semakin besar ditempat yang mudah terbakar. Kemudian ia akan padam jika tidak ada yg ia bakar.” Sama dengan semangat diri dalam menjalani Ramadhan. Semangat itu akan semakin hidup jika memang diniatkan, diprogramkan dan dilaksanakan. Dan, semangat itu akan mati pada saat memang tidak ada niat, tidak ada program dan memang tidak ada komitmen menjadi lebih baik.

Lantas apa saja yang harus dilakukan selama menjelang akhir Ramadhan ini?

Pertama, memperbanyak membaca Al-Qur’an.

Jika mau kita pikirkan, amalan yang paling mudah untuk dilakukan selama Ramadhan, namun mendatangkan balasan besar, maka itu adalah membaca Al-Qur’an.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketentraman kepada mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut mereka ke hadapan makhluk di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan;

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” ( HR. Tirmidzi ).

Membaca Al-Qur’an ini bisa diprogramkan sebelum dan setelah bangun tidur, pagi atau dan sore hari. Dengan kata lain bisa kapan saja. Yang membuat kita tidak bisa membaca Al-Qur’an adalah karena memang tidak ada niat, tidak ada program, sehingga bagaimana kita akan berkomitmen membaca firman Allah Ta’ala yang suci itu.

Padahal, Rasulullah kala tiba Ramadhan tidak pernah melaluinya melainkan dengan menghatamkan membaca Al-Qur’an.

أنجبريلكانيعْرضُعَلَىالنَّبِيِّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَالْقُرْآنَكُلَّعَامٍمَرَّةً،فَعرضَعَلَيْهِمَرَّتَيْنِفِيالْعَامِالَّذِيقُبِضَفيه

“Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam setiap tahun sekali (pada bulan ramadhan). Pada tahun wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alayi wasallam Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau sebanyak dua kali (untuk mengokohkan dan memantapkannya).” ( HR. Bukhari ).

Kedua, bersungguh-sungguh dan menjaga kualitas puasa

Maksudnya adalah senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang bisa merusak nilai-nilai puasa, seperti mendengarkan lagu-lagu dan nyanyian yang melalaikan, melenakan dan hanya mendoorng nafsu dan khayalan menguasai diri. Termasuk menjauhkan diri dari menonton film-film yang membuat mata bermaksiat, acara gosip selebritis dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengikuti program tayangan sinetron.

Dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha– berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)
Selain itu juga mesti menjaga lisan dari berkata-kata yang tidak berguna.

“Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan buruk, maka Allah tiada butuh (terhadap puasanya) yang hanya meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad).

Ketiga, kurangi tidur

Sebagian orang beranggapan bahwa tidur bisa mengurangi ‘siksaan’ rasa lapar. Maka tidak heran, jika tidak sedikit orang mengisi Ramadhan dengan banyak tidur. Memang benar tidur pun di bulan Ramadhan dihitung ibadah. Tetapi jika berlebihan jelas ini justru termasuk perilaku tanpa adab terhadap bulan yang Allah limpahkan kemuliaan.

Oleh karena itu, hal yang tidak kalah penting untuk diatur dalam Ramadhan adalah soal kapan diri kita harus tidur, sehingga tidak melalaikan kewajiban yang lain, seperti sholat berjama’ah lima waktu, dan justru semakin tidak disiplin selama berpuasa.

Keempat, perbanyak bersedekah

Diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Sedekah ini tentu tidak mesti dalam bentuk uang, makanan pun jadi. Bahkan andaikata hanya punya beberapa kurma, maka itu pun sedekah. Dengan demikian, jangan lupa untuk mengagendakan diri bersedekah selama Ramadhan sesuai dengan kemampuan kepada orang terdekat dalam hidup kita.

Kelima, tancap gas ketaatan di 10 hari terakhir Ramadhan

عَنْعَائِشَةَرَضِيَاللهُعَنْهَا،قَالَتْ: كَانَرَسُولُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ، «إِذَادَخَلَالْعَشْرُ،أَحْيَااللَّيْلَ،وَأَيْقَظَأَهْلَهُ،وَجَدَّوَشَدَّالْمِئْزَرَ»

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam jika telah datang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah beliau menghidupkan waktu malam [dengan ibadah], membangunkan keluarga [istri-istrinya], bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mengencangkan sarungnya.” (HR. Bukhari).

Enam,  Itikaf di Masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama 10 hari dan pada akhir hayat, beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari. (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom, yaitu hadits no. 699 tentang permasalahan i’tikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).*

Rep: Imam Nawawi

Editor: Cholis Akbar

 

Transfer Infak dan Sedekah Rumah Yatim Dhuafa Rydha.

Bank Syariah Mandiri : 700 2885 098  a.n Yayasan Rydha

Bank Muamalat : 313 000 7465 a.n Yayasan Rydha

Bank Mandiri : 155 000 6367 570  a.n Yayasan Rumah Yatim Dhuafa Hifzhul Amanah

BCA : 868 0932 001 a.n yay. RYDHA

Bank BRI : 4862 0102 4514 530 a.n Yayasan Rumah Yatim Dhuafa Hifzhul Amanah